Tidak semua orang mengenal Bi’ru Rauha’ atau yang dikenal juga sebagai sumur Rauha’, sebuah sumur tua yang menyimpan kisah bersejarah dalam perjalanan Rasulullah SAW. Sumur Rauha’ ini terletak di sebuah kawasan (lembah) Rauha’ yang berada sekitar 80 km barat daya dari Madinah.
Menurut penjelasan K.H Muhammad Danial Nafis (Khadim Zawiyah Arraudhah) saat tour ke Bi’ru Rauha’, nama Rauha’ sendiri berasal dari bahasa arab istirāhah yang artinya adalah “istirahat”, karena dahulu Rasulullah SAW bersama pasukan muslimin pernah singgah dan beristirahat di kawasan tersebut saat dalam perjalanan menuju perang Badar.
Keistimewaan Sumur Rauha’
1. Nabi Muhammad SAW Pernah Singgah & Shalat di Rauha.
Sebagaimana yang termaktub dalam sebuah Hadits yang berbunyi:
عَن نَافِع أَنَّ عَبدَ اللهِ بنَ عُمَرَ حَدَّثَهُ أَنَّ النَّبِيَّ ص.م صَلَّى حَيثُ المَسجِدُ الصَّغِيرُ الَّذِي دُونَ المَسجِدِ الَّذِي بِشَرَفِ الرَّوحَاءِ وَقَد كَانَ عَبدُ اللهِ يَعلَمُ المَكَانَ الَّذِي كَانَ صَلَّى فِيهِ النَّبِيُّ ص.م يَقُولُ ثَمَّ عَن يَمِينِكَ حِينَ تَقُومُ فِي المَسجِدِ تُصَلِّي وَذَلِكَ المَسجِدُ عَلَى حَافَةِ الطَّرِيقِ اليُمنَى وَأَنتَ ذَاهِبٌ إِلَى مَكَّةَ بَينَهُ وَبَينَ المَسجِدِ الأَكبَرِ رَميَةٌ بِحَجَرٍأَو نَحوُ ذَلِكَ (رواه البخاري)
Dari Nafi bahwa Abdullah bin ‘Umar menceritakan bahwasanya Nabi SAW pernah melaksanakan shalat di masjid kecil, bukan masjid yang terdapat di Syarful Rauha’. ‘Abdullah mengetahui tempat yang pernah digunakan oleh Nabi SAW untuk shalat. Ia berkata, Disana, di sebelah kanan jika kamu berdiri shalat di masjid itu. Masjid itu terletak di sebelah kanan jalan jika kamu berjalan menuju ke arah Makkah. Jarak masjid tersebut dengan masjid besar sejauh lemparan batu atau kurang lebihnya sekitar itu (HR. Bukhori)
2. Tempat Walimatul Ursy atau Pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Shafiyah binti Huyay.
عَن أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنهُ قَالَ قَدِمَ النَّبِيُّ ص.م خَيبَرَ فَلَماَّ فَتَحَ اللَّهُ عَلَيهِ الحِصنَ ذُكِرَ لَهُ جَماَلُ صَفِيَّةَ بِنتِ حُيَيِّ بنِ أَخطَبَ وَقَد قُتِلَ زَوجُهاَ وَكاَنَت عَرُوساً فَاصطَفاَهاَ رَسٌولُ اللَّهِ ص.م لِنَفسِهِ فَخَرَجَ بِهَا حَتَّى بَلَغنَا سَدَّ الرَّوحَاءِ حَلَّت فَبَنَى بِهَا ثُمَّ صَنَعَ حَيسًا فِي نِطَعٍ صَغِيرٍ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ص.م آذِن مَن حَولَكَ فَكاَنَت تِلكَ وَلِيمَةَ رَسُولِ اللَّهِ ص.م عَلَى صَفِيَّةَ ثُمَّ خَرَجناَ إِلَى المَدِينَةِ (رواه البخاري)
Dari Anas bin Malik berkata; Nabi SAW memasuki Khaibar. Tatkala Allah memberi kemenangan pada Nabi SAW atas benteng Khaibar, diceritakan kepada Beliau tentang kecantikan Shafiyah binti Huyyay bin Akhthob yang suaminya terbunuh sedangkan dia baru saja menjadi pengantin. Maka Rasulullah SAW memilihnya untuk diri Beliau (untuk dinikahi). Kemudian Beliau keluar bersama Shafiyah hingga ketika kami sudah sampai di Saddar Rauhaa’, beliau berhenti untuk singgah maka dibuatkanlah baginya makanan yang terbuat dari kurma, tepung dan minyak samin dalam wadah kecil terbuat dari kulit. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Persilakanlah orang-orang yang ada di sekitarmu!” Itulah walimah Rasulullah SAW dengan Shafiyah. Kemudian kami berangkat menuju Madinah.
3. Tempat Nabi Isa AS memulai talbiyah untuk haji / umroh di akhir zaman kelak.
عَن حَنظَلَةَ الأَسلَمِيِّ قَالَ : سَمِعتُ أَبَا هُرَيرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ يُحَدِّثُ عَنِ النَّبِيِّ ص.م قَالَ “وَالَّذِي نَفسِي بِيَدِهِ لَيُهِلَّنَّ ابنُ مَريَمَ بِفَجِّ الرَّوحَاءِ, حَاجًّا أَو مٌعتَمِرًا, أَو لَيَثنِيَنَّهُمَا”.
Dari Handzalah Al Aslami bahwa Abu Hurairah berkata dari Rasulullah SAW bahwa beliau berkata “Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguhnya Ibnu Maryam memulai Tahlil (talbiah) di Fajjur Rauhaa’ untuk haji atau umrah, atau melakukan keduanya (Yakni menggabungkan haji dan umrah)” (HR. Muslim)
4. Tempat Singgah dan Shalat 70 Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW.
وَفِي التِّرمِذِي مِن حَدِيثٍ عَمرُو بن عَوفٍ (أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ صَلى فِي وَادِي الرَّوحَاء وَقَالَ “لَقَد صَلى فِي هَذَا المَسجِدِ سَبعُون نَبِيًا”)
Dalam riwayat At Tirmidzi dari Hadist Amr bin Auf bahwa Rasulullah SAW ketika di lembah Rauha’ beliau berkata “Telah Sholat di Masjid ini 70 Nabi”.
5. Termasuk salah satu diantara lembah – lembah Surga.
عَن غَمرُو بنِ عَوف المُزَنِّي – رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ – أَنَّهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّه لِلرَّوحَاءِ :”هَذِهِ سجَاسج وَادٍ مِن أَودِيَةِ الجَنَّةِ, لَقَد صَلَّى فِي هَذَا المَسجِدِ قَبلِي سَبعُونَ نَبِيًا, وَلَقَد مر بِهِ مُوسَى – عَلَيهِ السَّلاَم – عَلَيهِ عبَاءتَانِ قَطوَانيتاَن عَلَى نَاقَة ورقَاء فِي سَبعِين أَلفًا مِن بَنِي إسرَائِيل حَا جِين البَيتِ العَتِيقِ, وَلاَ تَقُوم السَّاعَة حَتَّى يمر بِهِ عِيسَى بنِ مَريَم عَبدُ اللَّه وَرَسُولُهُ ؛ حَاجًا أومُعتَمرًا أَو يَجمَع اللَّهُ لَهُ ذَلِك”.(رَوَاهُ الإِمَام الطَبرَانِي فِي معجمهُ الكَبِير وَحَسَنهُ التَّرمِذِي)
Dari Amr bin Auf Al muzani bahwa Rasulullah SAW bersabda mengenai Rauha’ :”Dataran lembah ini adalah satu dari lembah-lembah surga dan telah Shalat di masjidnya 70 Nabi sebelum aku, dan telah lewat di Rauha’ pula Musa Alaihissalam dengan mengenakan dua jubah tebal di atas unta putih bersama dengannya 70 ribu bani israil untuk haji ke bait atiq (Ka’bah) dan tidak akan terjadi kiamat sampai Isa bin Maryam melewati tempat ini untuk haji atau umroh (HR. At Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir dan dihasankan oleh At Tirmidzi)
Suasana di Bi’ru Rauha’ Saat Ini
Ketika berkunjung langsung ke Bi’ru Rauha’, suasananya tidak terlalu ramai. Bahkan, yang pertama kali kami temui bukanlah rombongan jamaah, melainkan para pedagang yang menawarkan jeriken dan air dalam kemasan untuk para peziarah. Pandangan kami kemudian tertuju pada sumur bersejarah itu. Bi’ru Rauha’ kini dikelilingi pagar besi dan dalam keadaan terkunci, sehingga pengunjung tidak diperkenankan masuk atau mengambil airnya secara langsung. Seolah menjaga kesakralan tempat yang pernah menjadi persinggahan Rasulullah SAW ini.
Konon Bi’ru Rauha’ ini pernah mengalami masa dimana sumur ini kurang terawat: terdapat coretan di sekeliling sumur, kemudian tidak jauh dari sumur tersebut terdapat masjid kecil tanpa pintu yang sebagian dindingnya retak. Oleh karena itu dilakukan renovasi di kawasan sumur dan masjid tersebut sehingga menjadi seperti sekarang.
Hikmah yang Bisa Dipetik
- Menghargai Jejak Sejarah Rasulullah SAW
Setelah mengetahui kisah sejarah Rasulullah SAW tentang Bi’ru Rauha’, kini kita mengetahui dan memahami bahwa Bi’ru Rauha’ bukanlah sebuah sumur biasa, tetapi ia menjadi saksi perjalanan Rasulullah SAW. Meskipun sekadar tempat singgah, keberadaannya mengajarkan bahwa setiap langkah beliau memiliki nilai sejarah dan patut untuk dijaga.
- Pentingnya Merawat Warisan Umat
Dahulu, sumur ini sempat tidak terawat bahkan penuh coretan. Namun setelah dilakukannya renovasi, hal ini menjadi penginat bagi kita bahwa warisan sejarah Islam membutuhkan perhatian dan tanggung jawab dari generasi ke generasi.
- Kesederhanaan dalam Ibadah
Masjid kecil di dekat Bi’ru Rauha’ yang sederhana, mengingatkan dan menyadarkann kita kembali bagaimana suri tauladan kita Rasulullah SAW dan para nabi sebelumnya, dahulu hidup dalam kesederhanaan. Bahkan dengan kondisi dinding yang retak dan sajadah usang, menunjukkan bahwa nilai utama ibadah bukan pada megahnya sebuah bangunan, melainkan pada kekhusyukan dan ketulusan hati.
- Istirahat yang Bernilai Ibadah
Nama Rauha’ yang berarti “istirahat” mengajarkan bahwa berhenti sejenak dalam perjalanan bukanlah sebuah kelemahan, tetapi bagian dari sunnah. Istirahat yang diniatkan untuk menjaga kekuatan dalam beribadah justru bernilai pahala.
- Mengambil Hikmah dari Perubahan
Sebagaimana kita ketahui bahwa kini, terdapat perbedaan kondisi Bi’ru Rauha’ antara dahulu dan sekarang, yang mana hal ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa setiap tempat bersejarah bisa mengalami pasang surut. Namun, perubahan menuju kebaikan adalah hal yang patut disyukuri dan dijaga.
Pada akhirnya, Bi’ru Rauha’ bukan hanya sekadar sebuah sumur tua yang berada di pinggiran Madinah, melainkan ia menjadi saksi dan pengingat akan perjalanan mulia Rasulullah SAW. Dari tempat sederhana ini, kita diajak untuk lebih mencintai peninggalan bersejarah beliau, menjaga warisan umat, dan menyadari bahwa setiap langkah, bahkan sekadar singgah untuk beristirahat, bisa bernilai ibadah. Semoga kisah Bi’ru Rauha’ menambah kecintaan kita kepada Rasulullah SAW sekaligus menguatkan semangat kita dalam meneladani perjalanannya.
