Whatsapp

0821-7000-108

Whatsapp

0821-7000-108

Lokasi

DKI Jakarta

Waktu Operasional

09.00 - 17.00 WIB

Dari Langkah Terjal Jabal Nur hingga Heningnya Gua Hira: Mengenang Perjalanan Rasulullah SAW

Home / Artikel

Recent Blog

Kosultasi GRATIS Haji & Umroh

konsultasi GRATIS Haji & Umroh bersama CS Official kami via Whatsapp

Check on Our Social Media

Dari Langkah Terjal Jabal Nur hingga Heningnya Gua Hira: Mengenang Perjalanan Rasulullah SAW

Di sebuah bukit terjal bernama Jabal Nur atau disebut juga Jabal An-Nuur yang artinya “Gunung Cahaya”, terdapat sebuah gua kecil yang begitu sederhana, namun menyimpan peristiwa agung yang mengubah sejarah umat manusia, Gua Hira. Di sinilah Rasulullah SAW sering menyendiri, menjauh dari hiruk pikuk kehidupan jahiliyah, untuk merenung dan beribadah kepada Allah. Dalam keheningan gua yang sunyi, beliau menenangkan hati, menajamkan jiwa, hingga akhirnya pada suatu malam penuh keberkahan, malaikat Jibril turun membawa wahyu pertama: “Iqra’…” Sejak saat itu, Gua Hira tidak lagi sekadar sebuah tempat, melainkan saksi bisu lahirnya cahaya kenabian yang menerangi dunia.

Pada tanggal 17 Ramadhan Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama, sejak saat itulah, Nabi Muhammad SAW secara resmi diangkat sebagai Nabi dan Rasul. Saat peristiwa tersebut, usianya sekitar 40 tahun. Gua Hira sendiri merupakan salah satu tempat yang ideal bagi nabi untuk bertahannuts. Suasana yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk kota Makkah menjadi pertimbagan bagi beliau dan juga sudah dibicarakan dengan istrinya, Khadijah binti Khuwailid. Khadijah juga sempat beberapa kali mengunjungi suaminya ketika bertahannuts pada malam hari, dan tentunya juga melalui medan yang sulit untuk menuju Gua Hira tersebut.

Perjuangan Mendaki Jabal Nur Menuju Gua Hira

 

Untuk mencapai Gua Hira, para peziarah harus lebih dulu menaklukkan Jabal Nur, sebuah gunung berbatu dengan jalur yang menanjak dan cukup terjal. Jabal Nur sendiri yang berarti “Gunung Cahaya”, dinamakan demikian karena di sinilah cahaya kenabian pertama kali memancar melalui wahyu Allah kepada Rasulullah SAW.

Perjalanan menuju puncak Jabal Nur bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kekuatan fisik, ketekunan, dan kesabaran untuk melewati ratusan anak tangga serta jalan setapak yang cukup curam. Ratusan anak tangga yang terjal terasa begitu panjang. Nafas tersengal, kaki terasa berat, dan rasa lelah sesekali menghampiri. Namun, di balik setiap pijakan, ada semangat yang tumbuh: semangat mengikuti jejak Rasulullah SAW yang dahulu mendaki gunung ini seorang diri, tanpa kemudahan fasilitas seperti sekarang, hanya dengan hati yang dipenuhi ketulusan mencari kebenaran.

Suasana di Jabal Nur saat itu cukup ramai. Di sepanjang jalur pendakian, terdapat beberapa pedagang yang menjual minuman di setiap pos, sehingga jamaah dapat melepas dahaga dan tidak kesulitan untuk beristirahat sejenak. Selain itu, ada beberapa orang yang meminta sedekah. Namun, jamaah juga perlu berhati-hati, sebab ada sebagian orang termasuk anak-anak yang bersikap ramah, tetapi ternyata memanfaatkan kesempatan untuk mengambil barang milik jamaah yang sedang napak tilas.

Dalam perjalanan menuju puncak, kami juga menemui tempat yang menyerupai minimarket. Di sana tersedia aneka minuman dan camilan, sekaligus menjual berbagai macam oleh-oleh. Kami sempat berhenti sejenak di salah satu pemberhentian, di mana ada sekumpulan jamaah yang melaksanakan shalat di atas karpet sajadah. Menariknya, setelah selesai digunakan, karpet tersebut digulung menggunakan alat khusus dan segera dibereskan oleh petugas, lalu dibawa turun dengan mobil untuk disimpan kembali.

Di tengah gelap malam, langit Makkah yang bertabur bintang menambah suasana khusyuk. Seakan alam pun ikut mengingatkan bahwa di atas bukit inilah, dalam kesunyian Gua Hira, Rasulullah SAW menerima wahyu pertama yang menjadi cahaya penerang seluruh umat manusia. Beliau rela menempuh perjalanan berat ini demi mendapatkan ketenangan jiwa dan kedekatan dengan Allah. Betapa besar kesungguhan Rasulullah SAW dalam mencari kebenaran, hingga akhirnya Gua Hira menjadi saksi turunnya wahyu pertama.

Ketika akhirnya sampai di mulut Gua Hira, rasa lelah itu pun tergantikan oleh haru. Gua kecil yang sederhana, yang hanya cukup untuk beberapa orang duduk, dan sunyi itu menyimpan makna yang begitu agung. Di situlah Rasulullah SAW berdiam diri, merenung, dan menyambut cahaya Ilahi. Hati seakan larut dalam rasa haru, merasakan jejak sunyi Rasulullah SAW ketika pertama kali menerima cahaya wahyu Ilahi.

Napak Tilas Perasaan di Jabal Nur

Saat langkah demi langkah ditempuh di malam yang gelap, sempat terlintas keraguan di hati: “Apa mungkin saya bisa sampai di puncak Jabal Nur?” namun, setiap kali rasa lelah itu datang, teringatlah perjuangan Rasulullah SAW yang dahulu mendaki tanpa penerangan, tanpa fasilitas, hanya dengan hati yang tulus mencari kebenaran. Ingatan itu justru menumbuhkan semangat baru, ingin merasakan sedikit saja perjuangan beliau, ingin menapaki jejak sejarah yang penuh makna.

Yang membuat hati semakin tergerak adalah ketika melihat jamaah lain yang usianya sudah sepuh. Meski langkah mereka tertatih, semangat mereka untuk menaklukkan Jabal Nur tak pernah padam. Pemandangan itu menjadi pengingat bahwa perjalanan ini bukan sekadar mendaki gunung, tetapi perjalanan iman yang menguatkan jiwa.

Di tengah perjalanan, rasa haru tak tertahan. Terlintas renungan: apa yang dulu dipikirkan Rasulullah SAW hingga beliau rela berdiam diri sendirian di gua kecil ini, jauh dari keramaian? Jika saat itu hidup di zaman beliau, rasanya ingin sekali menemani manusia mulia yang begitu memikirkan umatnya, bahkan sebelum wahyu pertama turun. Air mata hampir menetes, menyadari betapa besar kasih sayang Rasulullah SAW, betapa agung perjuangan beliau demi sampainya cahaya Islam kepada kita semua.

Haru Biru di Gua Hira

Sesampainya di puncak Jabal Nur, rasa syukur dan haru biru tak terbendung. Nafas yang tersengal selama perjalanan tergantikan dengan ketenangan ketika kaki akhirnya menapak di mulut Gua Hira. Di sana kami bisa beribadah, berdzikir, dan merasakan kedekatan yang begitu hangat dengan Allah SWT. Namun, ada satu hal yang tak kalah menakjubkan: tantangan memasuki gua itu sendiri. Ukuran pintunya kecil, sempit, bahkan sulit dibayangkan bagaimana tubuh bisa melewatinya. Tetapi yang mengejutkan, ada orang-orang dengan tubuh besar yang justru dapat masuk, sementara ada pula yang bertubuh kecil namun tidak mampu melaluinya. Seolah ada rahasia yang Allah sisipkan, bahwa bukan semata soal fisik, melainkan kehendak dan izin-Nya yang menentukan siapa yang bisa merasakan langsung ruang kecil penuh sejarah ini.

Perasaan pun bercampur aduk, haru, kagum, sekaligus tergetar melihat langsung tempat Rasulullah SAW berkhalwat bersama Sang Pencipta. Inilah ruang sunyi di mana beliau menggigil ketika pertama kali bertemu malaikat Jibril, di mana kegelisahan, kebingungan, sekaligus beban amanah besar itu beliau rasakan. Berdiri di tempat itu membuat hati serasa ikut menyelami jejak sejarah, mengingat betapa besar perjuangan Rasulullah SAW hingga Islam sampai kepada kita hari ini.

 

Refleksi Perjalanan

Perjalanan menuju Gua Hira bukanlah sekadar mendaki sebuah gunung berbatu. Ia adalah perjalanan hati, perjalanan yang membuka mata tentang arti perjuangan, kesabaran, dan pengorbanan. Setiap langkah yang berat, setiap helaan nafas yang terasa sesak, seakan mengingatkan betapa jauh lebih besar perjuangan Rasulullah SAW ketika beliau menapaki jalur ini seorang diri. Menyaksikan langsung tempat di mana Rasulullah SAW berkhalwat, merenung, dan menerima wahyu pertama, membuat hati bergetar. Betapa besar cinta beliau kepada Allah, dan betapa dalam kasih sayang beliau kepada umatnya hingga rela menanggung kegelisahan, kebingungan, bahkan ketakutan demi sampainya cahaya Islam kepada kita semua.

Perjalanan ini menyadarkan, bahwa setiap tantangan dalam hidup sesungguhnya adalah jalan untuk mendekat kepada Allah. Seperti halnya Gua Hira yang sunyi namun menjadi pintu cahaya, demikian pula hati kita, jika dipenuhi dengan dzikir, sabar, dan syukur maka akan menjadi tempat turunnya ketenangan dari-Nya. Mendaki Jabal Nur dan menapaki jejak Rasulullah SAW membuat kita semakin mencintai beliau, semakin rindu untuk kelak berjumpa dengannya di Surga, dan semakin ingin meneladani perjuangannya dalam setiap aspek kehidupan.

Daftar Umroh & Haji Bersama Harmoni Tour: